Saturday, 9 June 2012

FIKOM GOES TO SCHOOL

Fakultas Ilmu Komunikasi Goes To School pada 3 April 2012

FIKom Goes To School merupakan suatu acara yang diadakan oleh mahasiswa sebagai praktek yang memilih mata kuliah Event Organizer. Kegiatan ini untuk memperkenalkan dunia bisnis komunikasi kepada siswa-siswi SMA. Tema yang dibahas saat ini "How To Be A Good TV Presenter?". Pembicara yang hadir antara lain Donny de Keizer, S.Sos dan Raymond Kurniawan, S.I.Kom. Peserta yang berpartisipasi sekitar 250 orang.

Siswa-siswi diajarkan bagaimana menjadi seorang Public Speaker dan reporter yang akan tampil di TV. Dengan diadakan kegiatan seperti ini, diharapkan dapat menambah pengetahuan serta wawasan siswa-siswi dalam bidang komunikasi.

Fakultas Arsitektur Berbagi Resep


Tahun ini, genap 50 tahun sudah usia Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Universitas Tarumanagara. Dan setengah abad bukan rentang waktu yang singkat. Ibarat perjalanan seorang manusia, sudah banyak asam-garam kehidupan yang pernah dirasakan. Demikian pula halnya dengan salah satu fakultas tertua di Untar ini.

Berbekal pengalaman panjang itu pulalah lahir sebuah ide orisinil “Berbagi Resep”. Tercipta dari sebuah keinginan sederhana namun mulia. Keinginan untuk berbagi pada sesama―rekan kerja, alumni, mahasiswa, atau kepada siapapun ilmu ini dapat berguna.

“Ini adalah ide dari rekan-rekan di arsitektur supaya para mahasiswa mendapat masukan yang berguna, bisa mengikuti jejak langkah para seniornya sehingga mereka pun dapat berhasil setelah lulus nanti. Jadi kita berpikir untuk memberikan resep-resep yang jitu dari para arsitek yang sudah sukses dalam karirnya,” jelas Ir. Suwandi S., M.T., Ketua Panitia HUT ke-50 tahun Arsitektur Untar di sela-sela coffee break siang itu, Kamis 7 Juni 2012.

“Resep” itu dibagikan bukan hanya oleh para alumni, tetapi juga arsitek tamu yang sengaja diundang dalam acara diskusi panel yang diselenggarakan di Auditorium Lantai 3 Gedung Utama Kampus I ini. Salah satunya, seorang arsitek muda kenamaan, Ridwan Kamil.
                
Selain diskusi panel, di selasar auditorium juga dipamerkan berbagai hasil karya kreatif para mahasiswa, seperti foto-foto dan majalah dinding “Forum Templok”. “Ini bentuk majalah dinding para mahasiswa kami sejak dahulu. Sengaja dibuat unik dan menarik,” komentar salah seorang dosen, Lioe Tjin Fa, seraya menunjuk deretan pameran itu dengan antusias.

Bakat, kreatif, dan imajinatif sepertinya merupakan syarat mutlak bagi seorang arsitek. Seperti yang dikatakan oleh Ir. Suwandi, “Terutama itu bakat. Punya imajinasi di dalam bentuk dan teknik struktur. Selain itu juga, mereka harus banyak melihat. Semua hal itulah yang akan membentuk mereka menjadi seorang arsitek yang berhasil kelak.”

Acara yang menjadi salah satu pembuka dari berbagai rangkaian kegiatan HUT ke-50 ini didukung pula oleh Pacific Paint (PT. Pabrik Cat dan Tinta Pacific), Roman Granit, dan Prima Imaging.

Setelah ini, masih banyak lagi kegiatan menarik lainnya yang telah mereka persiapkan dengan matang. Salah satunya, di penghujung acara tanggal 5 Oktober 2012 mendatang, pagelaran seni di Central Park Mall. Maju terus, Arsitektur Untar! (Mia)

Peranakan Tionghoa Di Nusantara Peluncuran dan Bedah Buku Kerjasama Untar, Penerbit Buku Kompas, dan Aspertina

Universitas Tarumanagara bekerjasama dengan Penerbit Buku Kompas dan Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (Aspertina) mengadakan acara peluncuran dan bedah buku “Peranakan Tionghoa Di Nusantara – Catatan Perjalanan Dari Barat Ke Timur”, pada kamis, 31 Mei 2012 yang lalu.

Acara yang diadakan selama dua jam dan bertempat di Auditorium Lantai 3, Gedung Utama Kampus I, ini berlangsung cukup meriah. Antusiasme hadirin pun terasa jelas sekali saat itu. Tidak heran karena sebagian besar yang hadir saat itu merupakan tokoh-tokoh dan pemerhati Budaya Peranakan Tionghoa di Indonesia.

Mereka adalah orang-orang yang masih peduli akan budaya yang telah berakar sejak berabad-abad yang lalu.
Ketua Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah Jap Tji Beng, Ph.D., dalam sambutannya mewakili Rektor Untar, menyatakan dukungannya terhadap acara-acara yang mengangkat budaya Peranakan Tionghoa seperti ini.“Dari buku ini dapat terlihat bagaimana terjadinya proses lintas budaya (cross culture), pencampuran, serta pembentukan budaya di berbagai daerah di Indonesia,” tutur beliau.


Masyarakat Peranakan Tionghoa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Bangsa Indonesia. Keberadaannya merupakan hasil asimilasi yang nyata antara kaum pendatang dari Tiongkok dengan perempuan-perempuan dari berbagai suku asli di Nusantara. Tradisi, adat-istiadat, makanan, hingga bahasa pun merupakan perpaduan dari keduanya. Membentuk satu ragam kekayaan budaya yang baru, yang sangat menarik untuk digali dan diteliti lebih dalam lagi.

Berangkat dari pemikiran itu, Penerbit Buku Kompas meluncurkan sebuah buku yang mengulas tentang kehidupan masyarakat Peranakan Tionghoa di Tanah Air. Buku ini berisi tentang kumpulan-kumpulan tulisan jurnalistik penulisnya sendiri, yang juga seorang wartawan senior di Harian Kompas.Yang menjadi pembicara dalam acara peluncuran dan bedah buku kali ini adalah Dr. Asvi Warman Adam dan Prof. Dr. Ir. Dali S. Naga, dengan moderator Inayah Wahid, puteri almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden keempat RI dan pendobrak bangkitnya etnis Tionghoa di Indonesia setelah sekian tahun hidup terpasung di negerinya sendiri. Di samping itu, acara dihadiri juga oleh para akademisi dan sejumlah insan media cetak maupun elektronik. (Mia)


Sumber:

Penanggulangan Masalah Korupsi Politik dan Peran Media

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara mengadakan kuliah umum 
bersama Ade Irawan, SE.- Wakil Koordinator ICW


Kegiatan ini dilakukan di Gedung Utama Lt.11 Ruang 1106 pada 29 Mei 2012. Media massa merupakan satu pilar yang menjadi andalan dalam pemberantasan korupsi. Tingkat konsistensi yang diberikan media massa dalam pemberantasan korupsi cukup signifikan dalam mengungkap kasus-kasus yang mengemplang uang rakyat. Dengan menyajikan berita-berita aktual dari berbagai isu yang berkaitan dengan praktek-praktek korupsi, hukum, politik dan seterusnya, menunjukkan bahwa sesungguhnya media memiliki kontribusi yang esensial dalam mendukung proses pembangunan demokrasi.

Terlebih, saat ini kita sedang berada dalam masa transisi demokrasi yang salah satu jalannya melalui pembaruan tata pemerintahan. Karenanya, inilah saat yang tepat bagi media massa untuk mendukung proses pembaruan tata pemerintahan yang baik melalui berita-berita informatif, cerdas, kritis, dan bertanggung jawab. Peran media tidak hanya memberikan informasi mengenai penindakan terhadap pelaku korupsi, tetapi juga pencegahan korupsi. Mengingat kedudukan media massa dalam perkembangan masyarakat sangatlah penting, maka industri media massa pun berkembang pesat saat ini. 

Sumber:

FIKOM Menghadiri Seminar Bersama DR. Maya Soetoro Ng

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara menghadiri acara @america- Pacific Place pada 5 Juni 2012


Kegiatan ini dihadiri berbagai universitas, pelajar, jurnalis, dan LSM pendidikan yang berjumlah sekitar 200 orang. Dengan pembicara Dr. Maya Soetoro Ng- Education Specialist dari East West Center dan Assistant Professor di University Of Hawaii College Of Education, moderator Irid Agoes membahas mengenai "Educations for Global Cometence".

Saat ini dunia sudah semakin mengglobal, dan dunia pendidikan perlu mengikuti perkembangan globalisasi tersebut untuk dapat mempersiapkan setiap siswa menghadapi persaingan di dunia. Setiap orang perlu menyadari masing-masing dari kita itu berbeda, dan hal tersebut bukanlah halangan untuk mengembangkan diri sebagaimana yang kita inginkan. Sistem belajar saat ini seharusnya mampu membantu para siswa untuk menemukan jati diri dan mengajarkan kepada mereka bagaimana kita dapat melihat suatu peristiwa dari berbagai sudut pandang. 

Beliau juga menekankan pentingnya empowerment kepada para siswa agar mereka tidak merasa dibatasi oleh nasib yang mereka alami saat ini. Salah satu metode yang dikemukakannya adalah dengan membiasakan kelas untuk melakukan debat dan diskusi mengenai isu global terbaru. Ia berharap agar bentuk-bentuk pendidikan yang tidak perlu dapat digantikan dengan sistem yang lebih penting untuk kemajuan kompetensi peserta didik.

Sumber:

Youth For IntegriTV Film Festival

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara 
mengadakan Youth For IntegriTV Film Festival 2012


Pendidikan integritas adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara efektif mampu mengembangkan potensi diri, baik aspek kognisi (cipta), afeksi (rasa) dan konasi (karsa) nya sesuai dengan nilai-nilai integritas (keutuhan moralitas).

Memahami kondisi tersebut, FIKom UNTAR, tiri, School for Broadcast Media (SBM), Asosiasi Pendidikan Ilmu Komunikasi (ASPIKOM), menyelenggarakan Festival Film pendek dengan tema Youth for IntegriTV Film Festival yang memfokuskan kepada integritas dalam kehidupan masyarakat. Kegiatan ini diharapkan memberi wadah bagi kalangan siswa- siswi dan mahasiswa. Durasi film antara 5-24 menit. Panitia hanya akan menerima film yang dilengkapi dengan naskah film dan dua keping DVD yang berisi film beserta formulir pendaftaran.


Pendaftaran terakhir: 30 September 2012
Formulir dapat di download melalui http://indonesiaintegrity.net/index.php/download

Hadiah Kategori Universitas:
Best IntegriTV Film : 7.5juta + Trophy+ Sertifikat
Runner Up : 5 juta + sertifikat
Runner Up 1 : 2.5 juta + sertifikat
Most Viewed IntegriTV Film : 2.5 juta + sertifikat

Hadiah kategori mahasiswa SMA:
Best IntegriTV : 5 juta + trophy + seminar
Runner Up : 3.5 juta +sertifikat
Runner Up 1 : 1.5 juta + sertifikat
Most Viewed IntegriTV : 1.5 juta + sertifikat

Informasi dapat dilihat melalui http://indonesiaintegrity.net/

Sumber:
http://fikom.tarumanagara.ac.id/news/3-umum/214-youth-for-integritv-film-festival.html


Friday, 8 June 2012

Regenerasi Nasional I Banyak Tokoh Tanggalkan Nilai-nilai Patriotisme Rakyat Rindu Pemimpin Propluralisme






Sebuah wawancara dengan Dr. Eko Harry Susanto
Fakultas Ilmu Komunikasi,
Universitas Tarumanagara Jakarta
ekohs@centrin.net.id


Koran Jakarta, 31 Mei 2012

JAKARTA – Rakyat menanti munculnya pemimpin yang kaya gagasan dan hanya loyal pada bangsa dan negara. Setelah 14 tahun reformasi berjalan, rakyat sangat merindukan pemimpin yang tegas, berani mengambil sikap demi rakyat, dan menjunjung tinggi kemajemukan di atas kepentingan kelompok.

Publik merindukan pemimpin yang berpihak pada pluralisme. “Kita berharap pemimpin nasional ke depan tidak lagi menghampiri publik dengan modal pencitraan, tapi menawarkan pada publik gagasan cerdas dalam mengelola negara ini. Publik kini merindukan pemimpin yang memiliki integritas dan kompetensi dalam kepemimpinan, pemimpin yang sarat akan gagasan kebangsaan,” tegas Dekan Fakultas Komunikasi Universitas Tarumanegara, EkoHarry Susanto, kepada Koran Jakarta, Rabu (30/5).

Selain itu, pemimpin yang dibutuhkan saat ini adalah pemimpin yang memiliki kemampuan beradaptasi dalam globalisasi politik dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat dan negara. Oleh karena itu, seorang pemimpin wajib punya orientasi ke depan untuk menjadikan negara memiliki kemandirian, baik dalam bidang sosial, ekonomi, maupun politik serta berani memangkas kebergantungan pada bantuan ataupun utang luar negeri.

“Itulah pemimpin yang dirindukan rakyatnya karena memiliki kepedulian terhadap pelayanan kepada publik yang tinggi. Tidak zamannya lagi sekarang pemimpin yang mengutamakan citra, yang hanya pintar beretorika, tapi miskin tindakan,” tegas Eko.

Di tempat terpisah, Ketua Yayasan Pembina Universitas Pancasila, Siswono Yudo Husodo, menilai sebagian elite politik di Tanah Air tidak menggunakan kekuasaannya sebagaimana yang diharapkan dalam sistem politik modern. Dalam sistem politik modern, kekuasaan seharusnya bertujuan mendatangkan kesejahteraan umum.

“Elite saat ini banyak yang mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Di era reformasi ini, kita sedang menyaksikan kualitas kepemimpinan dalam masyarakat, di semua tingkatan, merosot hebat,” kata Siswono dalam acara Rembuk dan Sarasehan Nasional tentang “Kepemimpinan Nasional Berkarakter Pancasila” di Universitas Pancasila, Jakarta, Selasa.

Kurangnya Integritas

Siswono menilai salah satu kelemahan mencolok bangsa Indonesia saat ini adalah kurangnya integritas banyak individu yang memegang posisi kunci dalam berbagai bidang. Ditambah lagi dengan sikap masyarakat yang permisif terhadap penyimpangan.

Masyarakat pun sering mengabaikan proses dan lebih mementingkan hasil akhir. “Itu merupakan ciri masyarakat instan, cenderung machiavelis, yang demi tujuan tertentu menghalalkan berbagai cara,” ungkap dia.

Siswono menyayangkan semakin banyaknya tokoh masyarakat yang mulai meninggalkan nilai-nilai patriotisme. Moralitas di segala bidang kehidupan, baik politik, ekonomi, hukum, maupun budaya, merosot. Ketertiban masyarakat juga merosot. Koruptor yang dermawan cenderung lebih dihormati.

Karena itu, Siswono mengingatkan kita untuk meningkatkan kepekaan dan kehalusan rasa serta budi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di segala bidang. “Moral dan etika menjadi sangat penting bagi negara setelah melihat kenyataan banyak terjadinya penyimpangan di banyak institusi negara, baik legislatif, eksekutif, maupun yudikatif,” tegas Siswono.

Sementara itu, pengamat politik UGM, Erwan Agus Purwanto, menilai partai politik, hingga saat ini, belum siap melahirkan calon pemimpin berkualitas. Mandeknya sistem pengaderan di partai telah menghambat munculnya tokoh-tokoh potensial, seperti orang muda, untuk berkontestasi maupun memimpin pada 2014.

Secara terpisah, pengamat hukum dari Universitas Andalas Padang, Saldi Isra mengatakan Pemimpin yang tidak memperdulikan rakyatnya dan lebih mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya, harus dihukum dengan cara tidak dipilih kembali dalam pemilihan mendatang.

Rakyat sebagai pemilih harus diberikan pendidikan politik agar tidak lupa dengan kelakuan buruk pemimpin tersebut. Menurut Saldi, harus ada upaya yang intensif untuk selalu mengingatkan, akan kelakuan pemimpin yang lebih mementingkan pribadi dan kelompoknya.

Karena itu pendidikan politik terhadap masyarakat harus selalu diingatkan kalau perlu diintensifkan agar masyarakat tidak lupa. Pendidikan politik dapat diberikan melalui pemberitaan di media massa, pendidikan politik oleh lembaga swadaya masyarakat dan pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi.

Meski hasilnya belum tentu terlihat pada Pemilu 2014, namun seti daknya ada upaya pembelajar an terhadap masyarakat. “Karena pada dasarnya, bukan hanya terhadap pribadi pemimpin itu saja, yang harus diberi pelajaran, namun juga terhadap partai politik, yang mendukung pemimpin berkelakuan buruk itu, juga harus diberi pelajaran,” tukas Saldi. ags/cit/har/nsf/eko/P-4


Sumber:
http://ekoharrysusanto.wordpress.com/2012/06/01/komunikasi-politik-dan-pemerintahan/